Seorang Guru di China Hidangkan Air Gula Merah Hangat Saat Siswinya Sedang Haid

Seorang Guru di China Hidangkan Air Gula Merah Hangat Saat Siswinya Sedang Haid
Seorang Guru di China Hidangkan Air Gula Merah Hangat Saat Siswinya Sedang Haid

Seorang Guru di China Hidangkan Air Gula Merah Hangat Saat Siswinya SedangĀ Haid

Seorang Guru di China Hidangkan Air Gula Merah Hangat Saat Siswinya Sedang Haid
Seorang Guru di China Hidangkan Air Gula Merah Hangat Saat Siswinya Sedang Haid

Seorang Guru di China Hidangkan Air Gula Merah Hangat Saat Siswinya Sedang Haid – Seorang guru pria di sekolah menengah atas di Wenling, Provinsi Zhejiang, China sedang menjadi perbincangan hangat. Itu karena ia berinisiatif membuat catatan siklus menstruasi para siswa perempuannya dan membuatkan air gula merah hangat untuk membantu mereka melalui masa masa menstruasi dengan nyaman.

Netizen dibuat merinding saat mengetahui lewat media sosial kalau guru berusia 38 tahun bernama Mo Qunli itu membuat catatan siklus menstruasi para siswanya. Tapi, itu hanya satu sisi cerita saja.

“Ada beberapa netizen yang mengatakan kalau aku punya kelainan seksual. Memang tidak mungkin membuat semua orang setuju dengan Anda, jadi saya mengabaikan mereka,” ujar Mo, dikutip dari Nextshark, Rabu, 21 November 2018.

Selain membuat catatan, guru itu juga menyeduhkan air gula merah untuk diberikan kepada para siswanya yang mengalami nyeri haid. Dia sudah mempelajari kalau ini adalah pengobatan yang efektif untuk meredakan nyeri dan bisa membuat siswa tenang saat belajar.

Alih-alih membuat catatan menstruasi itu secara pribadi, Mo justru menuliskannya di selembar kertas dan menempelkannya di papan tulis agar semua siswa bisa membacanya. Cara ini bertujuan untuk mengajarkan siswa laki-laki agar lebih sopan pada teman sekelas perempuan mereka, dan memahami kondisi mereka saat sedang haid.

Beberapa siswa laki-laki bahkan ikut membantu membuatkan air gula merah hangat.

“Saya rasa sebagai guru saya harus mengambil tanggung

jawab sebagai seorang ayah dan menjaga siswa-siswa seperti anak perempuan saya sendiri. Siswa-siswa juga menganggap saya sebagai ayah, jadi tidak canggung bagi saya mencatat siklus menstruasi mereka,” ujarnya.

Jumlah siswa laki-laki di kelas Mo jauh lebih sedikit dibanding siswa perempuan (13 laki-laki dan 30 perempuan).

“Seseorang tidak hanya harus punya IQ, tapi juga Emotional Intelligence. Saya sering mengatakan pada siswa laki-laki di kelas bahwa laki-laki harus belajar bagaimana menjaga perempuan,” kata guru itu.

Please follow and like us:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*